Aku Membaca Dunia Ditanganku

IQRA (bacalah) dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari alaq. IQRA (bacalah) dan Tuhanmulah yang Maha Akram. Yang mengajar dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-Alaq: 1-5)

IQRA’, biasa diterjemahkan dengan “bacalah”, merupakan kata pertama dari wahyu yang disampaikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw. Iqra’sebuah kata yang terdengar begitu biasa, namun dibalik kata yang biasa itu, ternyata tersimpan sebuah perintah yang sedemikian penting dan sedemikian luar biasa pengaruhnya terhadap eksistensi dan perkembangan peradaban umat manusia.

Banyak bukti yang sudah berbicara tentang budaya membaca, bagi mereka yang keranjingan dengan membaca mulai dari individu bahkan tingkat bangsa sekalipun, maka hasilnya pun dapat dirasakan. Semua informasi dapat diketahui hanya dari membaca dan membuat dunia berada di tangan kita dan zaman tehnologi sekarang ini, sudah banyak fasilitas yang dapat dimanfaatkan dan sangat muda dari internet, hanya tinggal sekarang apakah kita mau dan mempunyai kemauan untuk merubah habit kita menjadi gemar membaca.



Mengapa kita kurang membaca?


Itu adalah antara persoalan yang sering ditimbulkan ketika melihat senario di kalangan masyarakat kita apabila menyentuh tentang budaya membaca. Adalah penting bagi melahirkan lebih ramai generasi muda yang suka akan membaca dan menjadikan amalan itu sebagai satu budaya agar tidak ketinggalan dalam perlombaan teknologi yang semakin sengit. “Buku adalah jendela dunia”. Kalimat yang sering kita dengar mulai dari kecil sampai dewasa. Tanpa harus berkeliling dunia, cukup membaca kita bisa mengetahui sesuatu yang menakjubkan tentang dunia luar. Membaca memiliki segudang manfaat yang tidak ada habisnya. Selain dapat menambah wawasan juga bisa dijadikan alternatif di waktu senggang. Salah satu tempat yang menyediakan segudang bacaan adalah perpustakaan.



Melestarikan Budaya Membaca


Institusi keluarga pada asasnya sama-sama bertanggungjawab untuk membentuk, menyemai, dan memupuk minat membaca di kalangan ahli keluarga dan seterusnya melestarikan budaya membaca di kalangan rakyat Indonesia. Peranan ini perlu bagi memenuhi perkembangan mental kanak-kanak dalam usaha bagi memenuhi keperluan, cita rasa, aspirasi, karena dan sikap ingin tahu yang hanya dapat dipenuhi melalui membaca.

Peran keluarga juga sangat penting dalam rangka mengarahkan minat baca anak sejak kecil, agar anak terbiasa untuk membaca hingga dewasanya nanti. Menurut Bernice Cullinan dan Bord Bagert dalam bukunya Helping Your Child to Read, anak yang membaca bersama orang tuanya ternyata cenderung memiliki intelegensi, kemampuan membaca, penguasaan bahasa dan keterampilan berkomunikasi dibandingkan mereka yang kurang memperoleh bimbingan orang tua. Oleh karena itu perlu sekali peran orang tua untuk mendidik anaknya.

Salah satu contoh bangsa Jepang amat gemar membaca dan tidak suka membuang-buang waktu. Jangan kaget kalau datang ke Jepang dan masuk ke kereta, sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa terlihat asyik membaca buku atau koran tidak peduli mereka duduk atau berdiri. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dan lain-lain disajikan dengan menarik membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa Inggris, Perancis dan lain-lain). Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.

Selain Jepang, ada pula negara Rusia yang juga sama-sama penggila buku. Orang-orang Rusia paling suka membaca buku. Buku yang dijual di Rusia sangat murah. Orang yang paling miskin di Rusia dapat membeli 10 buku setiap bulan. Bahan pembicaraan mereka tidak pernah lepas dari buku bacaan. Karena itulah banyak sekali ilmuwan pintar lahir disana salah satunya Yuri Gagarin. Ia adalah orang Rusia pertama yang terbang ke luar angkasa.
Malaysia dan Singapura juga sedang menggalakkan budaya membaca. Dari data diperoleh Filipina yang rasio jumlah penduduk dengan surat kabar adalah 1:30 bahkan Malaysia 1:8,1. Indonesia sendiri masih 1:43 yang artinya satu surat kabar untuk 43 orang, padahal rasio yang ideal adalah 1:10.

Bagaimana kondisi pelajar Indonesia terhadap budaya membaca ? Mereka terlihat kurang sekali memanfaatkan perpustakaan sebagai tempat mencari sumber ilmu selain pendidikan formal di sekolah. Mereka memilih sebagai konsumen yang hanya menikmati ilmu dari pembicaraan atau keterangan guru. Mereka cenderung pasif dan lebih memilih menjadi pendengar yang baik. Setelah selesai, semua itu tercatat rapi di catatan dan ditutup tanpa dibaca kembali. Mereka baru membuka catatan kembali ketika ulangan tiba.

Begitu juga dengan liburan sekolah. Mereka memilih berlibur di tempat-tempat rekreasi seperti pantai, taman bermain dan pusat perbelanjaan. Ada beberapa yang memilih tinggal di rumah dan menghabiskan sisa-sisa liburan dengan menonton televisi seharian. Jarang sekali atau bahkan tidak ada sama sekali yang memiliki rencana berlibur untuk berkunjung ke toko buku maupun perpustakaan umum.

Sekarang coba perhatikan apa yang terjadi di rumah-rumah kita. Berapa banyak keluarga yang telah menjadikan MEMBACA sebagai kegiatan IBADAH yang sama pentingnya dengan sholat, mengaji, sedekah, puasa, dll.di rumah-rumah mereka ?

Sekarang kegiatan utama keluarga di rumah adalah menonton TV, dan bukannya membaca seperti yang diperintahkan oleh Allah. Budaya menonton telah membius keluarga kita. Statistik menunjukkan bahwa jumlah waktu yang dipakai oleh anak-anak Indonesia menonton TV adalah 300 menit/hari. Bandingkan dengan anak-anak di Australia 150 mnt/hari, Amerika 100 mnt/hari, dan Kanada 60 mnt/hari.
Apa akibatnya jika bangsa kita tidak membaca? Kemunduran dan kemerosotan tentu saja. Berdasarkan hasil studi Vincent Greannary yang dikutip oleh World Bank dalam sebuah Laporan Pendidikan “Education in Indonesia From Crisis to Recovery“ tahun 1998, menunjukkan kemampuan membaca siswa kelas VI Sekolah Dasar di Indonesia hanya 51,7. Jauh dibandingkan dengan Hongkong (75,5), Singapura (74,0), Thailand (65,1) dan Filipina (52,6). Hasil studi ini membuktikan kepada kita bahwa membaca belum –kalau tidak mau dikatakan bukan– menjadi program yang integral dengan kurikulum sekolah. Apalagi menjadi budaya.

Hal ini juga bisa dilihat dari berbagai statistik tentang negara kita. Dalam world Competitiveness Scoreboard 2005 Indonesia hanya menduduki peringkat 59 dari 60 negara yang diteliti. Padalah Malaysia sudah berada di peringkat 28 dan India 39. Hal ini juga bisa dilihat dari catatan Human Development Index (HDI) kita yang terus merosot dari peringkat 104 (1995), ke 109 (2000), 110 (2002, dan 112 (2003).

Belum cukupkah semua ini membuat kita sadar bahwa ada yang salah dari sistem pendidikan kita yang tidak memberi perhatian besar pada kegiatan membaca yang merupakan inti dari pendidikan ? Jika membaca telah menjadi suatu kegemaran dan kebutuhan dalam kehidupan kita sehari-hari, serta anak anak telah dibiasakan membaca sejak kecil, serta perpustakaan telah tersebar merata di negeri ini, secara otomatis budaya membaca sepanjang hayat akan terbentuk di negara kita dan bangsa kita tidak dipandang sebelah mata oleh bangsa lainnya.

(Selamet YIMI Gresik)